Sorry dorry morry, kita ndak level

Generasi tengah Indonesia. Sebagian menyebutnya kelas menengah. Para pemilik harta benda secukupnya. Ndak kurang, juga ndak berlebih. Kelas menengah mengakui berlebih dibandingkan yang benar-benar kelas atas. Ndak papa. Menengah itu bisa seperti sekolah. Kelas menengah pertama atau kelas menengah atas. Namanya juga tengah.

Generasi tengah adalah bagian kecil dari munculnya fenomena kekinian yang melanda hampir seluruh masyarakat dunia.

Ketika perjuangan antar kelas dikumandangkan oleh para pemikir jaman dahulu, kita masih berkutat dengan banyak pilinan yang belum  teranyam menjadi nusantara. Ada pilinan agama, pilinan bahasa, pilihan suku, pilinan bangsawan, pilinan petani, pilinan pedagang dan pilinan lain yang terpisahkan karena perbedaan identitas tersebut.

Kelompok kedaerahan apakah sudah usang? belum tentu. Selama kekerabatan dan memiliki senasib sepenanggungan asal sesama daerah masih ada dalam sikap batin kita, maka kedaerahan masih dipedomani oleh kita. Juga sentimen agama.

Pemikiran purba itu mulai bergeser dengan konsep cara pandang terkait perjuangan antar kelas. Anak jaman sekarang menyebutnya social climber. Dari kere, biasa, agak mampu, mampu, kaya, kaya norak, kaya kalem, dan creme de la creme satu persen. Kelas menengah dan atau generasi tengah berada di antara kolom agak mampu  dan mampu.

kipi

Apa ciri-ciri generasi tengah ini? saya ndak tahu. Apa ciri-ciri penampilan, gaya bicara, cara pandang, mimpi, masalah dan hal lainnya? Saya ndak tahu. Yang saya rasakan adalah bahwa pengkotak-kotakan hidup jaman sekarang memang nyata-nyata berdasarkan faktor ekonomi. Dan secara tidak sadar kita mengakui, memedomani dan menghayati secara senyap.

Kita ndak protes ketika dalam satu pesawat dengan teman kita ternyata beda letak korsi. Dia di deretan Bisnis sedangkan kita ekomnomi. Sejak awal kita sadar bahwa kita mampunya itu. Jika teman kita itu ternyata teman sekampung dan teman satu kos, maka sejatinya cara hidupnya, cara pandangnya tentang kehidupan, cara berpikir tentang suatu hal akan berbeda jauh dengan kita. Catat! Walau satu kampung, satu kos bahkan satu kampus, akan jauh berbeda.

Mengapa?

Jawabannya satu: Beda status sosial yang dipisahkan oleh faktor ekonomi.

Jika perjalanan pesawat tersebut adalah perjalanan dari Jakarta menuju Makassar, maka banyak hal bisa terjadi yang makin memperlebar jurang kelas.

Ketika di kelas bisnis, si teman kita akan bertemu dengan teman satu bangku  yang juga mampu membeli tiket bisnis. Terjadilah dialog yang nyambung dari skala ekonomi. Mereka akan saling bercerita tentang asal sekolah, tempat tinggal, dan kampung halaman, serta hal lain yang menarik minat mereka. Dengan lancar dapat diduga mereka akan membicarakan soal antrian yang mengular di H&M Balmain. Bicara fitur apa yang membedakan iPhone6 dan 6s. Berbincang tentang affogato fondue paling enak di daerah Jakarta Selatan. Khusyuk bicara perbedaan layanan kamar Mulia Nusa Dua dengan Hotel Mulia Jakarta. Mengapa Restoran ScallyWags Gili Trawangan lebih ramai dibandingkan yang di Gili Air. Berdebat soal mengapa Komaneka Tanggayudha sarapannya lebih enak daripada Komaneka Monkey Forest.

Sedangkan kita, di bangku ekonomi, akan bicara soal-soal yang memang dialami dan telah dirasakan oleh kita. Misalnya teman bangku kelas ekonomi kita orang Ubud. Dia tidak mungkin membicarakan soal sarapan Komaneka Tanggayudha, karena walaupun letaknya di kampungnya, dia belum pernah sekalipun duduk di lobby atau berdiri di depan resepsionisnya. Atau jika teman sederet kursi kita asli dari Lombok. Dia malah tidak pernah tahu bedanya Gili Trawangan dan Gili Air, karena sepanjang hidupnya dia masih mentok jalan-jalan ke Senggigi. Ya. Faktor ekonomi. Atau teman sederet pesawat kita  anak kampung  Kemang Bangka. Walaupun disana, dia ndak bakalan tahu apa menu yang ada di kafe-kafe Kemang, judul buku di deretan awal rak Reading Room, dan mengapa Eastern Promise akhir-akhir ini menyetel lagu London dari Benjamin Clementine.

Pengguna bangku ekonomi dalam pesawat akan lebih banyak bicara mengapa asap di Sumatra membungbung tinggi, mengapa sepatu nike makin mahal saja. Mengapa detik dan mojok.co sekarang lebih banyak bicara hal-hal konyol. Mengapa artis A memilih B, dan bukannya C.

Itulah bedanya kita dengan mereka. Itulah bedanya memiliki uang sejuta dan satu milyar.

Anak kaya Jakarta akan lebih tahu bedanya dan mengapa penyu di Pulau Ora mengapa lebih gemuk-gemuk, dibandingkan di daerah Maratua, dibandingkan dengan penduduk  Pulau Ora atau Maratua itu sendiri. Anak kaya Medan akan lebih nyambung bicara dengan anak kelas tengah nyaris kaya dari Bandung saat bicara betapa dinginnya AC Premiere studio XXI di Mal Pondok Indah dibandingkan si Fulan yang setiap harinya jualan case hape di kios lantai dasar Pondok Indah Mal.

Penyapu lantai mal Plaza Indonesia tidak mungkin berbagi cerita tentang secangkir kopi Iced Shaken Double Shot dari Starbucks yang  dia pel lantainya sebelum jam tujuh pagi.  Si V anak juragan tembakau Temanggung akan paham benar bedanya Wahana Dufan dan Trans Studio Bandung, dibandingkan si Z yang tinggal di kampung sebelah Ancol atau si Y yang seumur hidup tinggal di Jalan Gatot Subroto Bandung, persis belakang Trans Studio Bandung.

Perbedaan pengalaman seiring waktu akan membedakan pola pikir, pola tindak dan tujuan hidup. Pemisahan ini akan terus melebar. Lalu akhirnya tak saling kenal.

Benar apa yang dikatakan teman saya, Glenn Marsalim:

Seburuk-buruknya kedekatan, lebih bernilai dari seindah-indahnya keasingan.

Dalam konteks ini, walaupun banyak hal secara fisik dekat dengan kita, namun sejatinya asing karena kita tak pernah benar-benar bersentuhan langsung dengan hal-hal di sekitar kita.

Dan faktor pemisahnya itu adalah  isi dompet.

—-

Tulisan diatas sangat menarik. Berikut adalah post asli dari linimasa: http://linimasa.com/2015/11/07/sorry-dorry-morry-kita-ndak-level/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s